Banyak perusahaan mengklaim telah menerapkan personalized marketing, padahal yang dilakukan baru sebatas menyapa nama pelanggan di email atau menampilkan iklan berdasarkan usia dan lokasi. Pendekatan ini tidak lagi cukup. Konsumen semakin sadar data, ekspektasi mereka meningkat, dan relevansi menjadi standar minimum, bukan keunggulan.

Menurut Philip Kotler dalam Marketing 5.0 (2021), personalisasi bukan tentang teknologi, melainkan tentang kemampuan brand memahami konteks manusia secara lebih utuh. Artinya, personalized marketing harus menjawab pertanyaan yang lebih dalam: apakah brand benar-benar memahami kebutuhan, timing, dan situasi pelanggan?

 

Miskonsepsi Umum tentang Personalized Marketing

Salah satu miskonsepsi terbesar adalah menyamakan personalisasi dengan customization sederhana. Beberapa contoh yang masih sering ditemui:

  • Menganggap penggunaan nama pelanggan sudah cukup personal
  • Mengira segmentasi demografis sama dengan personalisasi
  • Fokus pada tools (CRM, CDP, AI) tanpa strategi pengalaman yang jelas

Padahal, personalisasi yang dangkal justru berisiko terasa invasif atau tidak relevan. Konsumen merasa “dipantau”, tetapi tidak dipahami.

 

Tingkatan Personalized Marketing: Dari Basic hingga Predictive

Untuk mengukur kedalaman relevansi brand, personalized marketing dapat dilihat dalam beberapa tingkatan strategis:

1. Basic Personalization

Ini adalah level paling dasar. Coontohnya, penggunaan nama, lokasi, atau bahasa komunikasi yang disesuaikan. Masih bersifat satu arah dan statis. Cocok sebagai fondasi, tetapi tidak menciptakan diferensiasi.

2. Segment-Based Personalization

Brand mulai mengelompokkan audiens berdasarkan perilaku, preferensi, atau lifecycle stage. Konten dan penawaran disesuaikan per segmen. Di level ini, personalisasi mulai terasa relevan, tetapi masih berbasis asumsi kelompok.

3. Contextual Personalization

Personalisasi berbasis konteks real-time: device yang digunakan, waktu, channel, hingga situasi pengguna. Misalnya, pesan yang berbeda antara pengguna mobile saat jam kerja dan desktop di malam hari. Level ini mulai menurunkan cognitive load dan meningkatkan pengalaman.

4. Behavioral & Journey-Based Personalization

Brand memahami pola perjalanan pelanggan secara end-to-end. Pesan, konten, dan pengalaman disesuaikan dengan tahap keputusan pelanggan, bukan sekadar siapa mereka, tetapi di mana mereka berada dalam journey.

5. Predictive Personalization

Level paling matang di 2025. Menggunakan AI dan data historis untuk memprediksi kebutuhan berikutnya dan bertindak sebelum pelanggan menyadarinya. Bukan reaktif, tetapi proaktif. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas data, etika, dan kepercayaan.

 

Seperti dijelaskan oleh Mark Schaefer dalam Marketing Rebellion (2020), relevansi masa depan bukan tentang “lebih banyak data”, tetapi tentang “lebih banyak empati yang diterjemahkan lewat data”.

 

Relevansi Bukan Hanya Soal Marketing, tapi Brand Experience

Personalized marketing yang matang tidak berdiri sendiri. Ia harus selaras dengan brand positioning, UX, layanan pelanggan, bahkan pengalaman offline dan event. Ketika pesan personal di iklan tidak konsisten dengan website, sales, atau event experience, kepercayaan justru menurun.

Inilah mengapa perusahaan besar mulai memandang personalized marketing sebagai bagian dari digital customer experience, bukan sekadar taktik kampanye.

 

Dari Taktik ke Strategi: Apa yang Perlu Dilakukan Brand

Beberapa prinsip kunci untuk membangun personalized marketing yang relevan:

  • Mulai dari pertanyaan strategis, bukan tools
  • Bangun personalisasi berbasis consent dan transparansi
  • Integrasikan data, kreatif, dan channel dalam satu pengalaman utuh
  • Ukur keberhasilan dari kualitas interaksi, bukan sekadar CTR

 

Menjadikan Personalized Marketing Lebih Bermakna Bersama CDL Agency

Di era ketika semua brand bisa “terlihat personal”, keunggulan justru ada pada kedalaman relevansi. CDL Agency membantu perusahaan merancang personalized marketing yang tidak hanya berbasis data, tetapi juga selaras dengan brand, pengalaman pelanggan, dan tujuan bisnis jangka panjang.
Jika perusahaan Anda ingin melangkah dari personalisasi permukaan menuju strategi yang benar-benar berdampak, CDL Agency siap menjadi mitra strategis Anda. Hubungi CDL Agency untuk mendiskusikan bagaimana personalized marketing dapat menjadi keunggulan kompetitif bisnis Anda di 2025.