Algoritma berubah cepat dan audiens semakin skeptis terhadap konten yang terlalu “salesy“, sehingga bisnis besar perlu mengubah pendekatan social media strategy.
Tahun 2025 bukan lagi tentang trik cepat (growth hacking) yang hanya mengejar angka semu. Yang bertahan justru brand yang fokus pada relationship marketing, membangun ikatan emosional jangka panjang dengan audiens.
Lalu, bagaimana cara merancang social media strategy yang benar-benar berkelanjutan? Mari kita bahas dengan pendekatan yang jarang diangkat: Anti-Growth Hacking.
Mengapa Growth Hacking Sudah Tidak Relevan di 2025?
Growth hacking (memacu pertumbuhan dengan trik teknis dan eksploitasi algoritma) pernah jadi primadona. Tapi sekarang, audiens semakin cerdas:
- Mereka lelah dengan clickbait dan konten yang hanya mengejar engagement kosong.
- Algoritma media sosial (terutama Meta & TikTok) semakin sulit dimanipulasi.
- Trust > Viral. Konsumen lebih memilih brand yang transparan dan konsisten.
Menurut riset terbaru, 64% konsumen lebih loyal pada brand yang berkomunikasi secara manusiawi, bukan sekadar membanjiri timeline dengan promosi (sumber: The End of Marketing oleh Carlos Gil).
Social Media Strategy yang Berfokus pada Relationship Marketing
Jika growth hacking tentang “cepat kaya”, relationship marketing adalah tentang “kaya yang bertahan”. Berikut kerangka dasarnya:
1. Prioritaskan Zero-Party Data, Bukan Hacking Algoritma
Daripada mencoba “mengakali” algoritma, lebih baik membangun komunitas yang secara sukarela memberikan data mereka—melalui:
- Polling & survei interaktif di Instagram Stories/LinkedIn.
- Grup eksklusif (Facebook Groups, Discord, atau WhatsApp Community).
- Memberi nilai lebih sebelum meminta sesuatu (contoh: free webinar sebelum menawarkan produk).
2. Human-Centered Content: Bukan Hanya Viral, Tapi Juga Bermakna
Social media strategy yang sukses di 2025 tidak lagi mengandalkan template konten viral, melainkan:
- Storytelling yang jujur (misal: behind-the-scenes perjuangan bisnis, bukan hanya pencapaian).
- User-generated content (UGC) sebagai testimoni alami.
- Jawab pertanyaan audiens secara mendalam, bukan sekadar posting untuk trending.
3. Engagement yang Berkualitas > Jumlah Like
Daripada sibuk mengejar like, bangun percakapan yang dalam:
- Reply comment dengan personalisasi (hindari balasan otomatis).
- Gunakan fitur voice note atau video reply untuk terasa lebih manusiawi.
- Kolaborasi dengan micro-influencer yang benar-benar relevan, bukan sekadar mencari reach.
Contoh Brand yang Sudah Menerapkan Pendekatan Ini
1. Glints: Social Media Strategy Berbasis Komunitas
Glints tidak hanya membanjiri LinkedIn dengan lowongan kerja. Mereka membangun diskusi tentang karier, mental health di dunia kerja, dan sesi mentoring langsung—sehingga audiens merasa terlibat, bukan sekadar dijejali iklan.
2. Sociolla: Memanfaatkan UGC & Edukasi
Daripada terus-terusan promosi produk, Sociolla menggunakan konten edukasi skincare dengan testimoni nyata dari customer. Hasilnya? Engagement lebih organik dan konversi lebih tinggi.
Bagaimana Memulai Social Media Strategy Anti-Growth Hacking?
1. Audit Konten: Hapus yang Mengejar Viralitas Semu
Mulailah dengan mengevaluasi konten existing – hapus postingan clickbait atau trend-jacking yang tidak mencerminkan nilai brand. Fokus pada konten “3V”: Value (solusi masalah), Vulnerability (cerita otentik), dan Voice (konsistensi persona). Contoh: ganti konten promosi berlebihan dengan edukasi berbasis pain point audiens.
2. Segmentasi Audiens Lebih Mendalam
Lupakan demografi dasar, gali psikografis melalui zero-party data. Manfaatkan Instagram Story polls, LinkedIn Q&A, atau komunitas eksklusif untuk memahami ketakutan/aspirasi mereka. Hasilnya? Konten yang benar-benar personal seperti case study spesifik atau testimoni relevan.
3. Ritme Komunikasi yang Manusiawi
Temukan sweet spot antara konsistensi dan kualitas. Contoh pola: 2x konten edukasi (how-to), 1x storytelling brand journey, 1x UGC/testimoni per minggu. Hindari autoposting – sesuaikan timing dengan momen aktual (event industri, hari spesifik) untuk terasa lebih organik.
4. Ukur Engagement Berkualitas
Tinggalkan vanity metric. Fokus pada: (1) meaningful comments/DM, (2) retention rate (durasi tonton baca), (3) conversion dari sosial media ke website. Tools: LinkedIn analytics untuk CTR artikel, Instagram insights untuk saves/shares, GA untuk track perilaku pengunjung dari sosial media.
CDL Agency: Partner Strategis untuk Social Media Strategy yang Berkelanjutan
Jika Anda pemilik bisnis besar yang lelah dengan strategi medioker dan ingin membangun brand authority yang sesungguhnya—kami di CDL Agency siap membantu.
Kami bukan sekadar agency, tapi mitra strategis yang percaya bahwa marketing yang baik harus human-first. Dengan pendekatan terkini dan data-driven, kami membantu Anda membangun social media strategy berbasis relationship marketing.
Tertarik mengubah pendekatan media sosial Anda? Let’s talk. Jadwalkan konsultasi gratis segera.




