Lanskap pencarian digital telah bergeser secara fundamental pada tahun 2026. Munculnya Search Generative Experience (SGE) oleh Google telah mengubah mesin pencari dari daftar tautan menjadi mesin penjawab otomatis. Bagi pemilik bisnis skala besar, perubahan ini bukan sekadar pembaruan algoritma, melainkan tantangan eksistensial terhadap marketing funnel strategy yang selama ini dijalankan.
Pergeseran Medan Perang: Dari Klik ke Otoritas
Dalam metode SEO tradisional, tujuan utama kita adalah menarik klik ke situs web. Namun, dengan AI yang merangkum jawaban langsung di halaman hasil pencarian, tantangan baru muncul: bagaimana brand Anda tetap relevan saat pengguna tidak perlu lagi mengeklik situs Anda?
Di sinilah konsep klasik dari Al Ries dan Jack Trout dalam buku Positioning menjadi lebih krusial dari sebelumnya. Esensi dari positioning bukan lagi sekadar menciptakan sesuatu yang baru, tetapi memanipulasi apa yang sudah ada dalam pikiran prospek. Di era SGE, “pikiran prospek” kini difilter oleh algoritma AI. Jika marketing funnel strategy Anda tidak menempatkan merek Anda sebagai otoritas tunggal dalam kategori tertentu, AI Google akan dengan mudah menggantikan posisi Anda dengan rangkuman informasi dari kompetitor.
Redefinisi Marketing Funnel Strategy dalam Ekosistem AI
Strategi saluran pemasaran (funnel) yang linear (Kesadaran, Pertimbangan, Keputusan) kini harus beradaptasi dengan realitas “Zero-Click Search“.
- Top of Funnel (Awareness): Memenangkan Citasi AI
Pada tahap ini, fokus marketing funnel strategy Anda harus bergeser dari sekadar keyword volume menjadi authority building. SGE cenderung mengutip sumber yang dianggap sebagai ahli di bidangnya. Jika brand Anda berhasil melakukan positioning sebagai “ahli dalam solusi X”, algoritma AI akan secara otomatis merekomendasikan brand Anda sebagai jawaban utama. - Middle of Funnel (Consideration): Menguasai Konteks
AI sangat mahir dalam membandingkan. Strategi Anda harus memastikan bahwa konten di situs web Anda memberikan argumen yang kuat dan unik sehingga saat AI melakukan komparasi, brand Anda menonjol karena spesialisasi yang tajam. Sesuai dengan saran Ries dan Trout untuk mencari celah (hole) di pasar yang belum diisi. - Bottom of Funnel (Decision): Membangun Kepercayaan Tanpa Batas
Ketika pengguna memutuskan untuk mengeklik, mereka melakukannya karena AI telah membangun ekspektasi yang tinggi terhadap brand Anda. Marketing funnel strategy di tahap akhir ini harus memvalidasi janji tersebut melalui pengalaman pengguna (UX) yang mulus dan bukti sosial yang autentik.
Menghindari “Bloody Competition” di Era Generatif
Persaingan di era SGE akan menjadi sangat tajam karena AI cenderung hanya menampilkan 2-3 sumber referensi utama. Tanpa positioning yang kuat, bisnis Anda hanya akan menjadi komoditas yang mudah dilupakan. Menyelaraskan marketing funnel strategy dengan cara kerja AI berarti Anda harus berani memangkas pesan yang terlalu umum dan berfokus pada satu nilai unik yang tidak bisa digantikan oleh logika algoritma.
Keberhasilan marketing di tahun 2026 ditentukan oleh siapa yang berhasil “memiliki satu kata” dalam memori kolektif internet yang kini diatur oleh AI. Jika Anda gagal menduduki posisi tersebut, Anda akan terjebak dalam kompetisi harga dan fitur yang melelahkan.
Arsitek Positioning Anda Menentukan Masa Depan
Di era pencarian yang didominasi AI penjawab, brand tidak cukup sekadar hadir, ia harus relevan dan dipercaya sebagai sumber. CDL Agency membantu bisnis menyelaraskan marketing funnel strategy dengan prinsip positioning klasik ala Al Ries, lalu menerjemahkannya ke dalam ekosistem SGE yang digerakkan AI. Fokus kami bukan sekadar visibilitas, tetapi memastikan brand Anda muncul sebagai jawaban yang dipilih algoritma dan diyakini manusia. Di CDL Agency, kami membantu menyelaraskan strategi agar brand Anda tetap dipercaya (oleh mesin dan manusia).
Jika relevansi jangka panjang penting bagi Anda, mari ngobrol dengan kami hari ini.




